Archive for the ‘Rasa’ Category

25
Jul

25 untuk Kau

Posted under Personal, Rasa, Ucapan 5 Comments

25. Kau memilihnya untuk menjadi tanggal bersejarahmu. Suatu predikat yang sangat lama kau dambakan. Dulu, kita berharap yang sama, saling setia seperti apa yg kau janjikan di depan penghulu hari ini.

Romantisme itu telah lama berakhir, tertelan oleh babak drama lainnya. Bayangmu juga lambat laun mengabur, walau tak mudah dengan segera aku melepaskan. Terlalu kuat genggaman kenangan itu. Tapi jangan khawatir, aku mampu mengatasinya seorangku. Masih seperti yang sering aku sombongkan padamu dulu.

Maafkan untuk tulisan sangat bodoh ini, tak ada niat untuk mengusik kau di hari pertamamu disebut sebagai suami. Hanya ingin ucap Selamat. Bahagia menyertaimu hingga nanti.

Karena kita berada pada masa lalu yang sama. Juga kau dan aku lahir dari sebuah mimpi, mimpi yang tiada berkesudahan.

25

Tags: , , ,
18
Sep

diselimuti gundah…

Posted under Rasa 4 Comments

Sore ini, entah kenapa tiba-tiba saya merasa sedih sekali. Padahal sudah buka puasa dan sholat.

Seperti berada di negeri antah berantah.

Serasa sepi dan sendiri dalam keramaian.

Ungkapan itu yang pernah saya bilang ke teman semasa dikampus dulu kalau saya merasa sedih dan terasing. Sekarang saya butuh bahu untuk bersandar :((.

Seandainya mamaku ada disini, pasti tanpa dimintapun beliau akan menyediakan bahunya untuk disandari, pahanya agar saya bisa bermanja dan merajuk, tangannya untuk saya genggam ketika saya goyah. Ah sudahlah! ini malah membuat saya semakin sedih dan lemah.

Saya harap rasa ini hanya sesaat dan segera berlalu. Semoga :-<.

picture diambil dari sini

Tags:
06
Feb

setelah… 6-febo8

Posted under Rasa No Comments

gontai
seakan menegak minuman beraroma
lunglai
seakan sendi tak bertulang
letih
seakan berpuluh hari mata tak terpejam

aku bergetar
terlebih hatiku
menyelami karakter demi karakter
makna demi makna
yang bukan lagi milikku

aku tak menuduh
hanya mengungkapkan keresahan hati
aku tak menginginkan
hanya membaca gerak laku

dan kini…
tak ada airmata menyertai
tak ada kegundahan mengikuti
tak ada pula amarah
yang kutahu
hanya ada penyesalan
membayangi jalan lurus membentang di depan

walau terseok akan terus ku coba melangkah
walau tertatih akan terus ku paksa berpijak
terus ku coba…
tetap ku paksa…
hingga titik nadir pengharapan
menyinarkan keanggunan cahyanya
namun entah kapan
%%-


kota daeng, 060208

-disela-kekisruhan-rutinitas-dan-kegalauan-nurani-setelah-tulisan-itu-hadir-